Seminar Orang Tua Asik Anak Unik Part II

Di Part I saya sudah tulis rekapan dari buku panduan seminar (ditambah beberapa catatan). Disini saya akan tulis beberapa pertanyaan yang disampaikan peserta (yang saya ingat) & jawaban dari Pak Ge saat seminar kemarin.

kenapa saya repot-repot merekap asil seminar kemarin disini? karena saya orangnya Pelupa, jadi kalau suatu saat saya lupa, saya bisa baca lagi & diingatkan sama postingan ini.


“Dalam pandangan anak, Orang tua yang ideal itu orang tua yang bagaimana sih?”

Pak Ge (yang dalam seminar ini memposisikan diri sebagai “anak”) menjawab:

Orang tua yang ideal menurut anak ya Ortu yang Ngga kompak. Kenapa? karena kalau ortu ngga kompak, ya anak bahagia dong, anak ngga usah belajar (baca:usaha), anak akan selalu dapet gratisan. Misalnya anak tau dia ngga akan dapet apa yang dia mau dari Ibu, dia bisa dapet itu dari Ayah.

Sebagai orang tua, suami-istri itu satu kesatuan. Udah bukan jamannya lagi ada pemisahan Ayah bekerja – Ibu membesarkan anak. Oleh karena itu salah satu hal utama perlu dilakukan sebelum mendidik anak ya Ortu harus kompak. Karena kalau ortu ngga kompak, ya balik lagi, akan jadi inkonsisten dan anak gagal belajar. Tugas orang tua adalah membantu anak-anak untuk belajar. Jadi harus dipastikan bahwa yang disediakan orang tua adalah fasilitas untuk membantu proses belajar, bukan fasilitas untuk menghindar dari kesulitan.

Sejak umur berapa Fasbel dapat dikenalkan pada anak?

Sejak nol, Saat panca indera anak mulai berfungsi. Kira-kira usia 2-3 bulan. anak sudah bisa belajar mengenal “Enak & Nyaman”. Seperti yang tertera di Tabel Rute Pengasuhan Pendidikan TOGE (RUASDITO). Tapi setiap anak tentu saja perkembangannya berbeda. Bisa saja sesuai umur anak seharusnya sudah ada di Rute Sebagai Pembeli, tapi kesiapan mental anak masih ada di Rute memilih. Ya harus disesuaikan juga sama Rute & pemetaan anaknya.

Apa itu RUASDITO?

RUASDITO (Rute Pengasuhan Pendidikan Toge). Dalam kehidupan anak-anak, mereka belum menganal prinsip “Perlu – Tidak Perlu”, mereka masih berpatokan pada prinsip “Enak – Tidak Enak”. dan Tugas orang tualah untuk membantu anak memahami konsep “perlu – Tidak Perlu”, agar pada saatnya anak tidak lagi terpaku pada konsep “enak-tidak enak” saja.

Didalam bukunya Pak Ge Menuliskan, apa yang harus dimiliki orang tua untuk mendukung program asuh-didik demi membantu anak menjadi siap menghadapi kehidupannya adalah:

  1. Kriteria yang jelas, Tegas, Konsisten tentang perilaku apa yang disebut baik dan perilaku apa yang disebut tidak baik.
  2. Kesanggupan (mau & mampu) mencermati kapan perilaku yang baik maupun yang tidak baik ditampilkan oleh anak-anak.
  3. Kesanggupan (mau & mampu) menghargai perilaku yang baik dan MENGABAIKAN perilaku yang tidak baik.

Berikut Rute Pengasuhan Pendidikan Toge:

20130218-133918.jpg

RUASDITO

Sesuai Tabel Rute,

Diusia 0-2 tahun anak diajarkan membangun rutinitas. Yang perlu diingat oleh orang tua. Anak belajar untuk BIASA, bukan Belajar untuk BISA. Orang tua terbiasa dengan konsep, sedangkan anak masih terpaku pada Pola. Oleh karena itu anak belajar dari rutinitas, lalu menjadi biasa, maka selanjutnya anak akan memahami tentang Disiplin, lalu tanggung jawab.

Diusia 1-3 tahun anak belajar membangun ketertampilan memilih. Dirute ini anak belajar memilih dan orang tua berdagang (bukan dagang asongan ya.. #krik-krik) , maksudnya berdagang dengan anak adalah saat anak megutarakan keinginannya, maka ortu mengajukan tawaran. Tahapan memilih ini dimulai dari memilih enak vs tidak enak. contohnya: “Kamu mau gendong atau jalan?” saat anak sudah menguasai situasi tersebut (dengan ditandai dapat memilih salah satu) , Tingkatkan ke tahapan memilih selanjutnya yaitu Enak VS Enak, agar anak belajar mengelola keinginannya untuk serakah & mahir dalam situasi yang keduanya enak. Tahapan memilih selanjutnya, adalah Tidak enak VS Tidak enak. Karena anak sudah terbiasa dengan pilihan yang menurut dia enak/nyaman, maka saat diminta memilih anatra tidak enak vs tidak enak anak mungkin akan memilih untuk tidak melakukan keduanya. Sampaikan padanya jika anak tidak memilih satupun, itu artinya dia mengijinkan kita untuk menentukan apa yang anak peroleh. Contohnya: “Kamu mau makan sendiri atau makan disuapin?” , lalu “Karena kamu tidak mau memilih, jadi ibu yang memutuskan, kamu makan disuapin ibu”.

Diusia 2-4 Membangun Keterampilan Menawar (Sebagai Pembeli) . Memasuki Rute ini artinya anak sudah sanggup mengatasi situasi memilih. Orang tua sudah punya daftar “Apa yang ENAK untuk anak, dan apa yang TIDAK ENAK untuk anak”. Inti dari Belajar Berdagang adalah agar anak memahami bahwa apa yang anak inginkan akan ada harganya (baca: usaha), tidak ada yang gratis. dalam berdagang, Ortu dan anak harus dapat bersepakat secara SMART (Specific – Measurable – Achievable – Realisctic – Time bound). Specific dalam menentukan “Harga”. Measurable, terukur. Achievable, terjangkau berdasarkan kemampuan anak. Realistic, buat harga yang masuk akal. Time-bound, Jelas batasan waktunya. Karena jika kesepakatan kurang SMART maka anak akan belajar berbohong/curang.

Contoh: Pada saat anak merengek minta nonton TV. Ortu bisa berdagang.

“Kamu mau nonton TV..? Kalau mau, kamu harus selesai makan sore & mandi sore sebelum jam 5. Setelah itu kamu bisa nonton acara TV selama 1 jam. Kalau kamu ngga menyelesaikannya sebelum jam 5 maka kamu tidak bisa nonton TV”

Lalu bagaimana jika setelah jam 5 anak masih belum selesai mandi? tentu saja ortu harus konsisten. Tidak ada acara nonton TV hari itu. Yang harus diingat, dalam berdagang harus ada kata sepakat, artinya anak setuju dengan perjanjian yang dibut. Karena jika tidak (ortu memutuskan sepihak) itu namanya bukan bersepakat, tapi menjajah.

Satu hal lagi yang perlu diingat orang tua, dalam proses fasbel ini anak tidak dikenalkan pada Hukuman, tapi konsekuensi. Karena hukuman itu sifatnya bukan mendidik tapi memaksa. Saat anak melanggar kesepakatan, yang ia terima adalah konskuensi, karena sudah disepakati di awal perjanjian.

(Untuk penjelasan Rute asuh didik selanjutnya bisa dibaca di bukunya Pak Toge aja ya, kemarin pun yang dijelaskan hanya beberapa poin saja)

Point-point yang saya catat dari seminar kemarin:

  • Jika Situasi tidak aman, jangan dipakai belajar. Misalnya jika ortu dalam kondisi fisik/mental yang tidak fit. Atau di tempat-tempat umum yang tidak memungkinkan. Seperti yang Pak Ge bilang “Belajarnya libur aja.. lebih baik kasih gratisan daripada ortu jadi inkonsisten..” 😀
  • Sabotase. Sabotase salan fasbel bisa saja datang dari orang-orang dalam maupun luar rumah. Contohnya saat ibu sedang menjadi Fasbel ,lalu anak berstrategi, dan Ayah yang merasa terganggu bertindak sebagai faspel hanya agar anak diam menangis. Itu namanya sabotase. Yang harus dilakukan jika ada yang menyabotase adalah, menghentikan proses belajar, dan jadi orang asing. Artinya, biarkan pihak yang menyabotase yang buat keputusan.
  • STRATEGI. (Jangan salah loh, anak sejak usia 9bulan anak sudah bisa mengeluarkan strategi, sedangkan dibawah usia itu biasanya anak hanya akan menunjukan perilaku memaksa). Apa itu perilaku Strategi? perilaku yang tujuannya mencari perhatian, mengecoh lahir/batin demi tercapainya keinginan pelaku. Strategi dalam konteks asuh-didik mengacu pada perilaku anak yg secara sengaja ditujukan untuk mengendalikan orang lain (ortu-pengasuhnya). Bisa ditunjukan dengan menangis, tantrum, ataupun perilaku fisik seperti memukul, atau lainnya. Strategi wajib diabaikan lahir-batin supaya anak belajar bahwa itu bukan cara jitu untuk membuat orang lain tunduk pada keinginannya. Jika strategi berupa tindakan berbahaya atau merusak, maka yang harus diamankan adalah KORBAN nya, bukan pelakunya. Contoh: Jika kakak memukul adik demi berstrategi terhadap ibunya, maka yang harus diamankan adalah adiknya, amankan adiknya dari jangkauan kakaknya, lalu abaikan LAHIR-BATIN kakaknya.
  • EMOSI adalah kondisi fisik-mental sebagai wujud kegembiraan, kesedihan, keharusan, kecintaan, dan keberanian subjektif (KBBI). Emosi bersifat spontan jadi jika perilaku emosi berbahaya, artinya tidak aman bagi dirinya sendiri, tidak aman bagi orang lain, atau merusak. Maka berkebalikan dengan strategi. yang harus diamankan adalah PELAKUnya.
    Lalu bagaimana cara membedakan Strategi/Emosi ? Emosi terjadi dalam waktu sangat singkat, tidak lebih dari 3 menit dan diluarkesadaran. Sedangkan Strategi, bisa terjadi dalam waktu yang lama & bersambung, karena tujuannya mencari perhatian. Perlu diketahui Strategi tidka akan berubah menjadi emosi. Contohnya saat anak menangis karena berstrategi, dia akan menangis saat ada orang lain, berirama, bisa saja berhenti untuk beristirahat lalu lanjut lagi saat ada orang yang memperhatikan.
  • Emosi harus disalurkan agar tidak terjadi endapan. Emosi tidak boleh dihambat karena bisa merusak & memicu masalah jika terlepas secara liar (meledak). Emosi harus difasilitasi & dicari saluran emosi yang aman. Bisa dengan hobi atau kegiatan-kegiatan yang aman. Contoh mengiklankan saluran emosi pada anak: “Ibu tahu kamu marah, kamu boleh marah kok. Setiap kali kamu marah kamu nyanyi aja” atau “Kamu main drum aja” atau “Kamu pukul bantal aja”. Yang penting saluran emosi aman.
  • Emosi yang tersumbat bisa bocor, bocoran itu bisa berupa Letupan emosi (Contohnya: Mengigau, mimpi buruk), atau Luberan Emosi (Contohnya: Mudah tersinggung, menyalahkan diri sendiri, serba salah), Atau Ledakan emosi. Oleh karena itu kantong emosi harus selalu dikosongkan, artinya harus cari saluran pelepasan emosi agar tidak tersumbat.
  • Anak Aktif atau tidak mau diam. Ada beberapa penyabab anak menjadi sangat aktif, yaitu:
    1. Pada saat anak menganggur, artinya sedang tidak melakukan kegiatan seperti makan atau bermain.
    2. Secara alamiah berkebutuhan bergerak.
    3. Coba diperhatikan, gerakan yang dilakukan bertujuan atau tidak. Pada anak yang hiperaktif gerakan yang dilakukan tidak bertujuan, mereka bergerak seperti layang-layang.
    4. Anak belum punya kesanggupan menunggu.

     

  • Anak Susah Makan, Yang perlu diperhatikan ortu saat anak susah makan:
  1. Pemaknaan tentang makan bagi anak.
  2. Proses mengenalkan makan dibangun dalam situasi yang tidak menyenangkan.
  3. Stamina jelek, otot rahang kurang terlatih (Bisa terjadi jika anak kurang menangis saat bayi)
  4. Karena faktor fisik, dapat terjadi paad fungsi kunyah-telan di mulut & kerongkongan maupun fungsi cerna-serap di lambung & usus
  5. Karena faktor mental bisa terjadi sebagai hasil belajar adu-menang, usaha cari perhatian, atau tidak sangup kecewa
  6. Dapat terjadi karena campuran faktor fisik-mental, berupa perilaku adu-menang akibat merasa dipaksa saat tubuh tidak butuh makan
  • Toilet training, proses toilet training berhubungan erat dengan aktifitas “ngenyot”. Jadi anak yang kesulitan dalam proses toilet training bisa disebabkan karena dia masih punya utang diaktifitas ngenyot. Ngenyot bagi anak itu cari nikmat, sementara ngeyot perlu stop saat fungsi cerna sudah ON (saat anak mulai makan padat) karena sebetulnya titik nikmatnya sudah dipindah ke anus & otot kemih. Maka dari itu, anak harus tuntas aktifitas ngenyotnya agar berhasil di proses toilet training. Apa yang terjadi jika kepuasan ngenyot anak tidak tuntas? utang itu akan terbawa sampai dewasa dan dia akan mencari aktifitas mengenyot yang lain. Contohnya: Merokok.
  • Tentang Sekolah, Sekolah itu Perlu bukan Harus., maka yang menjadi prioritas adalah kepentingan anak, bukan keinginan atau kepentingan kita selaku orang tua. Kapan anak bisa sekolah?
  1. Saat anak sudah punya kesanggupan berjuang. Paling telat saat anak berumur 7 Tahun, karena pada saat itu proses belajar anak (seharusnya) sudah tuntas.
  2. Carilah sekolah yang sesuai dengan tujuan orang tua.
  3. Carilah sekolah yang isinya GURU bukan JURU. Menurut Pak Ge, “Sekarang ini susah sekali cari sekolah yang isinya GURU. Kebanyakan sekolah isinya cuma JURU. GURU itu kan artinya diGUgu & ditiRU, harusnya jadi teladan buat murid-muridnya. Pada kenyataanya sekarang banyak sekolah yang isinya cuma JURU, Juru itu = Tukang. dan JURU disekolah itu kerjanya cuma merintah, bikin susah anak, bukan bikin anak bahagia.”
  4. Nah loh.. *tepok jidat*

PS: Hasil seminar ini saya share di blog sudah atas ijin Pak Ge. Jika ada kata atau penjelasan yang salah (dan bisa mengakibatkan gagal paham) saya mohon dikoreksi. Terima kasih. 🙂

9

7 Responses

  1. danirachmat
    February 19, 2013
    • indahmumut
      February 19, 2013
      • danirachmat
        February 19, 2013
        • indahmumut
          February 19, 2013
  2. Ika Koentjoro
    February 20, 2013
    • indahmumut
      February 20, 2013

Leave a Reply

%d bloggers like this: